Cerita Dewasa Ngentot Selebritis Indonesia cut keke






terimakasih sudah menjadi penikmat setia cerita dewasa dan cerita seks dari infokonyol.com, cerita dewasa kali ini akan menghadirkan kisah yang mendebarkan, penuh sensasi dan kejutan yang mencegangkan. cerita dewasa adalah salah satu yang paling banyak dicari di internet, sehingga infokonyol.com selalu berusaha menghadirkan hal-hal baru, oke langsung saja kita simak cerita mesum dan cerita porno terbaru kami, "Laki-laki brengsek!" Keke mengumpat seraya menekan pedal gas Cielonya
dalam-dalam. Ia saja melewati pintu tol menuju Bandung, tapi pikirannya
masih mengingat kejadian siang tadi ketika ia melihat Achmad Albar,
tunangannya sedang menyuapkan sesendok makanan ke seorang wanita di
sebuah café. Ketika Keke mendekati mereka wajah Achmad langsung pucat
dan tergagap-gagap ia menjelaskan yang diyakini oleh Keke tidak ada
satupun yang bisa dipercaya.

Oleh karena itu, ia memutuskan untuk
berakhir pekan ke Bandung. Melupakan kekesalan hatinya. Ia langsung
berangkat sepulang kerja, setelah mengepak keperluan secukupnya untuk
berakhir pekan, Keke langsung berangkat menuju rumahnya yang ada di
pinggiran kota Bandung.

Setelah beberapa saat keluar dari pintu
toll, dan hari sudah gelap, sekitar pukul 8 malam. Tiba-tiba mesin
mobilnya berbunyi aneh. Dan tanpa disangka-sangka asap mengepul dari kap
depan mobilnya menutupi dan mesin mobilnya langsung terbatuk-batuk dan
berhenti. Dengan sisa-sisa tenaga, mobil itu berhasil dkemudikan ke
pinggir jalan oleh Keke yang kebingungan dan panik melihat asap yang
mengepul dari depan.

Keke masih berusaha untuk menyalakan lagi
mesin mobilnya, tapi sia-sia. "Shit!" Keke keluar dari mobil dan
menemukan dirinya ada dipinggir jalan yang gelap, sumber cahaya hanya
dari bulan purnama yang sedang bersinar. Hampir tidak ada mobil yang
lewat, sedangkan tidak ada tanda-tanda disekitar situ ada rumah
penduduk.

"Damm, gue musti nginep di mobil! Sialan!" Keke
menendang ban mobilnya. Udara sekitar situ agak panas, untung Keke hanya
mengenakan t-shirt dan celana pendek, sehingga panasnya udara tidak
begitu mengganggunya. Sedangkan untuk makanan, ia sudah mempersiapkan
bekal untuk selama di perjalanan, biarpun seadanya tapi cukup untuk
mengganjal perut.

Tapi Keke masih tetap berharap akan ada mobil
yang lewat yang bisa membawanya ke bengkel atau wartel sehingga ada yang
bisa menjemputnya. Rupanya Keke tidak usah menunggu terlalu lama.

Tak
berapa lama terdengar suara deru kendaraan mendekat, lalu terlihat
sepasang lampu, makin lama makin terang dan terlihat sebuah mobil box
mendekati tempat Keke. Keke langsung berdiri di tepi jalan dan
melambai-lambaikan kedua tangannya. "HAAAAIIIII! TOLONG SAYA!" Box itu
berhenti dan minggir dua orang keluar. Yang satu berbadan hitam dan
besar serta berotot, sedangkan yang satu lagi botak, dengan badan kekar.
Keke sempat ragu-ragu menghadapi kedua orang yang tampaknya kasar-kasar
itu, tapi dirinya sangat membutuhkan tumpangan, dan ia berdoa agar
tidak terjadi apa-apa.

"Ada yang bisa saya banto Non?" tanya Botak dengan sopan, sementara Hitam diam dan hanya tersenyum tipis.

"Mobil saya tau-tau keluar asepnya. Terus mesinnya mati nggak mau jalan lagi."

"Sial banget ya Non." jawab Botak sambil melirik kaki Keke yang panjang.

"Bener. Padahal saya musti sampe ke Bandung hari ini juga. Bapak-bapak bisa bantu saya?"

"Eeeh, bisa Non, mungkin kepanasan atau ada yang bocor. Bisa pinjem kuncinya Non?"

Keke
merogoh saku celana pendeknya dan memberikan kunci Cielo-nya. Saking
leganya ia tidak melihat Hitam dan Botak bertukar pandang dan
menyeringai.

"Tunggu sebentar ya Non. Kita musti periksa dulu
mobilnya." kata Botak sambil menerima kunci dari Keke. Keke memberikan
senyumnya yang paling manis sebagai tanda terima kasih, dan ia lalu
berjalan-jalan sekitar situ melemaskan kakinya yang kaku selama
mengemudi.

"Waduuuh!" Botak berteriak ketika asap menyembur
keluar dari kap yang ia buka. Selama lima menit kemudian mereka berdua
menunduk di mesin mobil Keke sambil berbisik-bisik. Sekali Keke bertemu
pandang, dan Keke tersenyum. Mereka membalasnya, lalu kembali memandang
satu sama lainnya. Beberapa saat Keke sedang melamun sambil memandang
sebuah pohon di depannya ketika suara Botak dari belakangnya membuat ia
terlompat kaget. "Aduh, saya sampe kaget Pak!"

"Begini Non,
mobilnya emang rusak, tapi temen saya ini bisa betulin. Gimana, Non mau
nunggu dibetulin?" kata Botak sambil menunjuk Hitam.

"Oh!" Keke merasa lega, "Betul? Bisa dibetulin? Kalo begitu silakan pak dikerjakan. Makasih sekali Pak!"

"Cuma,
" kata Botak "Kami minta…ya…sedikit imbalan atau…" Botak tidak
menyelesaikan kalimatnya sementara Hitam sekarang menyeringai.

"Oh iya Pak. Ten, tentu Pak. Bapak jangan kuatir." kata Keke. Ia sendiri heran mengapa ia merasa begitu gugup.

"Berapa biayanya, nanti saya bayar. Juga nanti ada uang lelah untuk Bapak ber…"

Keke terheran-heran melihat kedua laki-laki dihadapannya tertawa terbahak-bahak.

"Ada apa?" tanyanya bingung. "Ada yang salah?"

"Itu
bukan imbalan yang kami minta nona manis!" mendengar nada suara Botak,
Keke langsung sadar yang yang diingikan oleh mereka berdua atas dirinya.
Dadanya berdebar keras, keringat dingin mulai keluar. Ini pasti mimpi,
katanya dalam hati. Mereka pasti hanya bergurau. Matanya melihat suasana
sekitarnya, gelap, tidak orang lain, tidak ada kendaraan yang lewat.
Tidak ada.

"Sa, sa, saya nggak mengerti maksud Bapak! Saya…"
Keke berusaha menenangkan dirinya. Wajah Botak dan Hitam langsung
berubah sinis. "Tentu saja Non tau, "kata Botak dengan tenang.
"Perempuan cantik kayak Non, sendirian, dan butuh bantuan dari kita,"
Hitam kembali tertawa sementara mata Keke membelalak tidak percaya
pendengarannnya. ".. tentu saja ada yang lebih baik dan bagus daripada
dibayar dengan uang. Betul nggak Cing?!"

Keke perlahan-lahan
mundur, "Sa, sa, sa tetap nggak nge,ngerti." berusaha agar tidak
terdengar ketakutan. Keke merasa putus asa melihat Botak dan Hitam
perlahan-lahan maju mendekati dirinya.

Air mata meleleh ke pipi
Keke. "Tung,tunggu sebentar Pak! Jangan!" Keke terus mundur sementara
jarak antara dirinya dan kedua laki-laki iru makin dekat.

"Lebih baek Non buka celana Non sekarang!"

Itu
saat pertama terdengar suara keluar dari mulut Hitam. Keke langsung
shock dan tidak dapat menguasai diri lagi. "TOLOOOOOONG! TOLOOOOOOONG!"
Keke berteriak dan berbalik lari sekuat tenaga.

Anehnya kedua
laki-laki itu tidak langsung mengejarnya. Keke menyadari kecil
kemungkinan ada mobil yang akan lewat yang akan menolongnya. Tapi ia
tidak mau hanya berdiri dan menyerah diperkosa oleh kedua laki-laki itu.
Nafas Keke mulai terengah-engah setelah ia sudah jauh berlari dari
Botak dan Hitam. Ketika ia menoleh Keke melihat Botak dan Hitam masuk ke
box mereka dari menyalakan mesin. Keke semakin panik dan ketakutan
menyangka mereka akan menabrakan mobil itu pada dirinya.

Keke
terus berteriak minta tolong sambil terengah-engah menyadari mobil itu
makin mendekatinya. Akhirnya mobil itu menjejeri dari sebelah kanan, dan
Botak membuka jendela sambil meneriakinya. "LARI TERUS NON! TERUS!
CEPETAN NON! TERUS!" Keke berusaha mempercepat larinya sambil terus
berteriak , "JANGAAAAN!"

Tiba-tiba box itu berhenti tiba-tiba,
Keke terus berlari. Nafasnya hampir putus, terengah-engah, menangis
tersengal-sengal. Keringat membanjiri tubuhnya. Menyadari box tadi
berhenti mengejarnya, ia sedikit merasa lega mengira mereka melepaskan
dirinya. Ia terus berlari, berusaha mencari tanda-tanda seseorang yang
bisa dimintai tolong. Mata Keke mulai berkunang-kunang, karena tubuhnya
belum pernah dipaksa berlari secepat ini, Keke berusaha untuk tidak
jatuh tersungkur dan pingsan.

Tapi dari arah belakang kembali
terdengar dencit roda, dan dalam sekejap box tadi kembali ada
disampingnya, lalu tiba-tiba pintu samping box terbuka dengan keras
menghantam tubuh Keke yang sedang berlari limbung.

Keke merasa
tubuhnya terlempar dan berputar sesaat sebelum akhirnya jatuh ke jalan
berbatu. Tubuh Keke berguling-guling sebelumnya berhenti menabrak pohon
di pinggir jalan tersebut. Dalam kesakitan dan ketakutannya, Keke
berusaha bangkit lagi tapi ia langsung tersungkaur antara sadar dan
tidak.

Kemudian ia merasa tubuhnya diangkat dan dimasukan ke bak
belakang box tadi. Tubuhnya gemetar, jatuhnya tadi tidak menyebakan luka
hanya Keke merasa sakit dan pusing dikepalanya. Lewat matanya yang
kabur, ia melihat Botak menyuruh Hitam untuk kembali ke mobilnya dan
melepaskan nomor polisinya, dan kemudian membakarnya. "Nona manis ini
nggak butuh mobil lagi. Soalnya dia kan udah ikut kita."

"Jangan,
jangan bakar mobil saya. Saya mohon!" Keke berusaha berteriak, tapi
yang keluar hanya kata-kata lemah, sambil berusaha bangkit.

"Hei,
nona manis ini masih bisa ngomong!" Botak lalu menampar pipi Keke,
membuatnya ia tergeletak kembali ke lantai box tadi sambil menangis.

Tak
lama, Hitam kembali sambil membawa nomor polisi mobil Keke. Dari
kejauhan, terlihat cahaya api yang berkobar membakar mobil Keke,
termasuk semua yang ada di dalamnya. Sekarang tak seorangpun tahu, milik
siapa mobil tersebut atau tidak seorangpun dapat mencari kemana
pengemudi mobil itu. Kemudian Keke merasa, tangan seseorang mengikat
kedua tangannya erat-erat di depan, setelah itu giliran kakinya,
sementara Keke hanya bisa berharap dirinya mati saat itu juga. Setelah
selesai mengikat Keke, mereka berdua keluar dan menutup pintu belakang
box itu. Dan sesaat kemudian, mesin mobil itu menyala dan mulai melaju.
Kekepun jatuh pingsan dalam gelap.

Keke berusaha membuka matanya,
dan perlahan-lahan sadar bahwa dirinya tidak ada di dalam box tadi.
Dirinya terbaring di tanah berumput. Hari sudah malam, dan ada api
unggun didekatnya berkobar membuat sekitarnya bersinar terang. Tali yang
mengikat tangan dan kakinya sudah tidak ada. Keke memandang
sekelilingnya dan kembali ketakutan melihat dua penculiknya sedang duduk
didekatnya di atas sebuah batu. Botak memegang sebuah pisau yang besar,
sementara Hitam mengacungkan sebuah pistol. "Sudah bangun Non?" sindir
Botak. "Sekarang kita mulai pesta kita!" Mereka langsung tertawa
sementara Keke menjerit ketakutan.

"Ma, ma, mau apa kalian?"

Keke
sudah putus asa. Dirinya sudah dikuasai seluruhnya oleh Botak dan
Hitam, semua identitasnya terbakar bersama mobilnya. Dan tidak ada
seorangpun dari teman dan saudaranya tahu kemana ia pergi, karena
rencananya ini semua dilakukannya secara tiba-tiba. Tangis Keke mulai
terdengar lagi, terisak-isak dihadapan laki-laki yang tanpa belas
kasihan terus memperhatikan dirinya.

"Kita nggak bakalan menyakiti kamu Non," jawab Botak, "Selama Non menuruti semua perintah kita. Semua. Ngerti Non?"

Keke hanya mengangguk sambil menundukan kepala.

"SAYA NGGAK BISA DENGER NON!" bentak Botak.

"Saya mengerti." Keke menjawab disela tangis.

"SAYA MENGERTI TUAN!" bentak Botak lagi.

"Saya mengerti Tuan." ulang Keke ketakutan.

"Sekarang coba Non berdiri!"

Perlahan Keke berdiri, sambil terus menundukan kepalanya.

"Lepasin semua pakaian Non!"

"Y,y,ya Tuan." Keke menarik t-shirtnya ke atas. "Pelan dong!" kata Botak kesal. "Kita mau menikmati juga!"

Putus
asa, Keke menuruti perintah Botak, perlahan-lahan menarik t-shirtnya ke
atas melalui kepalanya. Buah dadanya terlihat ditutupi oleh BH yang
halus dan berwarna putih. Dengan tangis yang makin keras, ia melepaskan
BH tapi dan menjatuhkannya ke tanah. Sekarang Keke berdiri dengan dada
terbuka, payudaranya yang bulat terlihat jelas disinari cahaya api
unggun. Botak dan Hitam bersuit-suit dan bertepuk tangan kegirangan.
Muka Keke memerah mendengar komentar-komentar Botak dan Hitam. Baru dua
kali ia bertelanjang di depan laki-laki, pertama kali di depan Achmad,
tunangannya yang ternyata sekarang berkhianat. "Celananya sekalian Non!"
perintah Botak.

Perlahan, Keke membuka kancing depan celananya
dan perlahan menurunkannya, akhirnya celana itu jatuh di kakinya, lalu
dengan air mata meleleh di pipi Keke menarik turun celana dalamnya,
sehingga sekarang ia betul-betul telanjang bulat. Keke berusaha menutupi
kemaluan dan buah dadanya dengan tangannya. Tapi Botak
menggerak-gerakan pisaunya, menyuruh Keke menurunkan tangannya. Keke
langsung menurunkan tangannya, dan sekarang Botak dan Hitam berjalan
mengelilinginya mengagumi tubuhnya.

"Coba sekaran Non berlutut
dan merangkak ke temen saya di sana!" perintah Botak, dan Keke menuruti
perintahnya, ia merangkak dengan tangan dan lututnya mendekati Hitam
yang tinggi dan besar.

"Nah, sekarang coba Non, masukin punya
teman saya itu ke mulut Non. Jilatin sama isep, sampe dia keluar. Kalo
nanti di keluar, Non musti telen semuanya, jangan sampe ada yang
kebuang. Dan ati-ati jangan sampe punya temen saya itu kegigit. Kalo
sampe kegigit, terpaksa saya potong puting susu Non!"

Keke
kembali shock, ia belum pernah memasukan penis ke dalam mulutnya.
Perasaannya muak membayangkan memasukan penis ke dalam mulutnya, ia
lebih ketakutan mendengar ancaman Botak yang akan memotong puting
susunya jika ia tidak menuruti perintahnya.

"Si,si,siap Tuan."jawab Keke sambil meraih kancing celana Hitam.

"Tunggu." tiba-tiba Hitam berkata, membuat Keke berhenti kebingungan.

"Minta ijin dulu dong Non!"

Keke
menangis lagi, melihat dirinya sedang dilecehkan oleh kedua orang itu.
Ia takut sekali akan terus menerus mengalami ini. "Bo,bo,boleh saya
jilat punya Tuan?" Keke berusaha mengeluarkan suara ditengah isak
tangsinya. Pipi Keke tampak berkilat-kilat basah oleh air mata.

"Yah,
silakan deh," jawab Hitam. "Soalnya Non sopan sekali sih mintanya."
Jari-jari Keke gemetar berusaha melepaskan kancing celana Hitam, setelah
berhasil restleting celana Hitam langsung terbuka dengan sendirinya.
Melihat apa yang keluar dari celana itu, tidak heran restleting celana
tadi tidak bisa menahan apa yang ada di dalamnya. Celana dalam Hitam
sudah turun dengan sendirinya tidak mampu menahan penis Hitam yang sudah
tegang sekali. Di depan mata Keke, penis itu mengacung dengan panjang
sekitar 25 cm, dengan urat-urat yang menonjol. Penis itu tampak
berkilau-kilau ditimpa cahaya api unggun. Kepala penis itu sendiri
berdiameter sekitar 8 cm. Hitam tertawa melihat wajah Keke memucat
melihat penisnya.

"Lho, Non, katanya mau…" kata Hitam tidak
sabar. Tidak tahu bagaimana memulainya, Keke memajukan wajahnya dan
menempelkan bibirnya yang mungil ke kepala penis tadi, dan mulai
menciuminya. Keke terus menciumi selama beberapa saat, kemudian ia
mengeluarkan lidahnya lalu ia menjilati batang penis Hitam. Sambil
menelan ludah, Keke sekarang membuka mulutnya lebar-lebar dan memasukan
kepala penis tadi ke dalam mulutnya, sedangkan lidahnya terus menjilati.
Nafas Hitam sekarang semakin berat dan terengah-engah, sementara itu
Keke terus menjilati kepala penisnya, sesaat dirasakannya sesuatu yang
asin di ujung penis Hitam. Keke berusaha melupakan apa yang baru
dijilatnya, sambil menutup matanya erat-erat, bibirnya menempel
disekeliling penis tuannya yang baru.

Hitam mulai mengerang.
Dengan tangan kanannya Keke memegang batang penis Hitam, sementara
kepalanya bergerak maju mundur berirama dengan berusaha membuka
rahangnya lebar-lebar agar giginya tidak bersentuhan dengan kepala penis
Hitam. Bibir Keke terus mengosok-gosok maju mundur pada kepala dan
batang penis Hitam, sedangkan lidahnya terus begerak menjilati dan
membasahinya. Hitam sekarang semakin keras mengerang, Keke ketakutan
mendengar erangan Hitam menyangka ia telah berbuat salah dan
menyakitinya. Tapi Hitam terus membiarkan bibirnya mengosok-gosok
penisnya. Terus, terus, terus sampai akhirnya.

Hitam tiba-tiba
memegang rambutnya dan mendorong kepala Keke hingga wajah Keke
bersentuhan dengan pinggulnya. Dan Hitam menyemprotkan sperma masuk ke
dalam mulut Keke. Keke belum pernah merasakan sperma sebelumnya, ia tak
berdaya menelan semua cairan kental yang terasa asin yang dalam sekejap
memenuhi mulutnya, dan dengan leluasa masuk kedalam perutnya.

"AAAARARARAAGGGGHHHHHHHH!"
erang Hitam, sementara Keke kembali menangis tak berdaya berusaha
menelan semua sperma yang terus keluar dari penis Hitam.

"TELEN SEMUA! SEMUAAAAAAKKKKAKHKHAHAHKK!"

Lalu
pegangan Hitam pada rambutnya perlahan mengendor dan aliran sperma yang
keluar melambat dan akhirnya berhenti. Selama beberapa saat Keke masih
memasukan penis Hitam dalam mulutnya, takut akan berbuat salah dengan
mengeluarkan penis Hitam tanpa perintah. Tapi Hitam akhirnya menarik
keluar penisnya dari mulut Keke. Keke lagsung membungkuk terengah-engah
menghirup udara, beberapa kali berusaha menelan sisa-sia sperma yang
masih menempel di lidah dan langit-langit mulutnya, dan Hitam yang juga
terengah-engah, berusaha berbicara., "Kita bener-bener nemuin emas di
sini." Ia tertawa. Tubuh Keke berkeringat walaupun sebernarny udara
sekitar situ cukup dingin. "Nona manis ini bener-bener hebat!" lanjut
Hitam. "Oke nona manis, " Botak maju. "Giliran saya sekarang!" Melihat
tidak ada yang bisa dilakukannya, dan berharap bila ia menuruti perintah
mereka ia akan dibebaskan Keke berlutut di depan Botak dan berkata.
"Tuan, bolehkan saya memuaskan Tuan?"

"Tentu saja boleh!" jawab
Botak sambil menyeringai. Keke kembali membuka celana Botak dan tak lama
kemudian keluarlah penis Botak di depan wajah Keke. Penis Botak tidak
sebesar milik Hitam, tapi kepala penisnya sangat besar dan berwarna
ungu. Keke melakukan kembali apa yang baru saja ia lakukan terhadap
Hitam, menciumi, menjilati penis Botak sampai Botak mengerang mencapai
puncak kenikmatan.

"AAAKKKKHHH! AAAAAKHHH! TERUUUUSSSHHHKKK!
AAAAKKKHHHH! Botak berteriak dan spermanya keluar deras masuk ke mulut
Keke. Sperma Botak terasa lebih pahit dari milik Hitam, tapi tidak
sebanyak yang dikeluarkan oleh Hitam, Keke berusaha untuk menelan semua
cairan kental pahit itu ke dalam perutnya.

Botak menarik keluar
penisnya, sementara Keke tersungkur dan menangis tak berdaya, berharap
mereka berdua puas dan melepaskan dirinya, tapi ternyata harapan yang
sia-sia.

Hitam berdiri dihadapan Keke, mata Keke terbelalak
melihat penis Hitam sudah tegang dan mengacung kembali. "Berdiri!"
perintah Hitam. "Ya Tuan!" Keke berdiri sambil menghapus tangis yang
mengalir di pipinya.

"Naik ke belakang box dan berbaring
terlentang." "Iya Tuan, saya naik Tuan." Keke naik ke belakang box. Di
lantai box itu sudah tergelar kasur tipis. Keke pasrah menyadari
sekarang dirinya akan segera diperkosa oleh kedua orang itu. Sambil
menangis Keke merangkak naik dan berbaring terlentang di atas kasur,
gemetar ketakutan dan kedinginan. Sekarang Hitam merangkak ke atas tubuh
Keke, Keke ngeri, aku bisa sesak nafas jika ia menindihku. Tuhan,
tolong saya Tuhan. Tapi yang dilihatnya cuma wajah Hitam yang
menyeringai.

Hitam memajukan pinggulnya, dan Keke langsung
menjerit kesakitan ketika kepala penis Hitam mulai membuka bibir
vaginaya. Dia tidak pakai kondom, Keke tersadar, dia akan menghamiliku!
Ketakutan akan dihamili oleh Botak, Keke terus menangis ketika penis
Hitam terus masuk menyakiti vaginanya.

"ADUUUUUUHHH,
SAKIIIIIIIIITTT! SAKIT TUAANN! Keke menjerit-jerit. "TUHAAANN!
SAKIITTT!" Tapi Hitam terus bergerak makin cepat dan keras, makin lama
makin dalam penis Hiitam masuk ke dalam vagina Keke. 10, 15, 20 dan 25
cm penis Hitam masuk!

"SAAAKIIIIIIIIITTTTTT!" jerit Keke. "AMPUUUNNNN! AMPUUUNNN!"

Jeritan
Keke hanya menambah semangat Hitam. Ia makin keras menghentak-hentak,
pinggul dan pantat Keke terbanting-banting di lantai box. Penis Hitam
hampir sebesar pergelangan langan Keke, dan seluruhnya bergerak keluar
dan masuk vagina Keke yang masih sempit. Keke merasa bagian bawah
dirinya seperti tersobek-sobek, tak terlukiskan sakit yang dirasakan
oleh Keke, sakit sekali sehingga Keke merasa akan mati saat itu juga.
Hitam terus memperkosa Keke, sampai Keke terlalu sakit dan lelah untuk
bisa berteriak, tiba-tiba Hitam berguling dan mengangkat tubuh Keke
hingga terbaring di atas perutnya. Keke terbaring terengah-engah dengan
penis Hitam yang masih masuk seluruhnya. Hitam lalu memegangi pantat
Keke dan mulai bergerak lagi, sekarang lebih perlahan tapi masih tetap
menyakitkan. Keke masih menangis di atas dada Hitam, sementara Hitam
terus memompa keluar masuk. Sebelum Keke berhasil bernafas dengan normal
kembali, dirasakannya sebuah kepala penis mendorong tepat di liang
anusnya yang kecil dan rapat.

"Ya Tuhan, ya Tuhan!
JANGAAAAAANNNN!" Keke melolong ketika penis Botak mulai menembus masuk
anusnya senti demi senti. Ya Tuhan, jangan Tuhan. Aku diperkosa dua
orang sekaligus! Tolong Tuhan, jerit Keke dalam hati. Dengan satu
dorongan final, penis Botak terbenam seluruhnya dalam anus Keke.

"AAARRARRRRRRKKKHHHHHHKKKKKHHH!"
Keke menjerit dan menjerit. "SAKIIIT! SAKIIIT! SAKIIIT! AMPUUUNNNN!"
Tapi Botak dan Hitam terus bergerak keluar masuk , sampai akhirnya Keke
hanya bisa merintih "…sakit,….sakit,….sakit…"

Dan
akhirnya Keke merasakan hentakan pinggul Hitam dan cairan hangat terasa
memenuhi vaginanya. Hitam telah mencapai orgasme, Keke mengetahui itu
dan ia menyadari dirinya akan hamil karena saat itu adalah saat
suburnya. Keke sudah tidak mampu lagi bergerak ketika Botak, juga dengan
keras dan brutal mencapai puncak dan meyemprotkan spermanya dalam anus
Keke. Dan, kedua laki-laki itu dengan terengah-engah terbaring lemas
dengan Keke tepat berada ditengah-tengah mereka. Perlahan Keke merasakan
penis yang masih ada di dalam vagina dan anusnya mengecil, dan mereka
terlelap kelelahan. Sedangkan Keke, jatuh pingsan di atas tubuh Hitam,
dan ditindih oleh Botak, sementara sperma meleleh keluar dari vagina dan
anusnya serta perlahan mengering.

Dengan tubuh berkeringat
karena teriknya matahari, tubuh Keke terbaring di atas perutnya dengan
tangan kaki terikat pada dua buah batang pohon. Sekarang ia berabaring
seperti huruf X di atas rumput dan pasir. Ketika ia mengangkat kepalanya
dilihatnya Hitam dan Botak ada di dekatnya, kembali Keke memohon-mohon
untuk dikasihani, "Tuan, saya mohon Tuan, jangan sakiti saya lagi Tuan.
Saya akan lakukan apa saja yang Tuan suruh. Saya janji Tuan!"

Botak
maju ke depan dan Keke langsung ketakutan melihat Botak memegang sebuah
logam yang panjang dan lentur, mirip dengan sebuah antena radio mobil.

"Saya tau Non pasti nurut sama kita. Yang kita mau adalah denger nona manins dan cantik macem Non menjerit-jerit minta ampun."

"Tapi
kenapa Tuan?" tapi Botak cuma tersenyum. Keke langsung meronta-ronta
ketika dirasakannya tangan Botak mengusapi pantatnya. "Jangan!
AMPUUUNNN, JANGAN PECUT SAYA TUAANN! AMMPUUUNN!" Keke berusaha
melepaskan diri dari ikatan. "Halus sekali, " Ia mendengar Botak
berkata.

Sebuah jeritan melengking ketika pecut logam tadi
mendarat di pantat Keke. "AAAAAIAIAIAIAAAAAAAHH!" Keke menjerit. Dan
sekali lagi pecut itu mendarat dan jeritan terdengar lagi.

Sekitar
sepuluh kali Botak mengayunkan pecutnya, tapi pada pecutan yang kelima
Keke sudah tidak mampu lagi menjerit karena kehabisan tenaga dan nafas.

Ketika
tangan Botak kembali meraba pantatnya sakit kembali menyengat dan Keke
merasakan darah meleleh mengalir turun keluar dari tempat Botak
mengayunkan pecutnya.

Segera setelah itu, tangan Keke dilepaskan
dari batang pohon dan diikat menjadi satu di depan. Sementara kakinya
dilepaskan sama sekali. Lalu ia didorong hingga jatuh terlentang dan
saat itu juga dirasakannya cairan hangat kental jatuh di atas wajahnya.
Ternyata dengan menyiksanya dengan pecut tadi Botak mencapai puncak
kenikmatan dan menyemprotkan spermanya ke wajah Keke.

Setelah itu
Keke ditarik berdiri, dan Hitam berkata, "Non, kita mau ngundang Non ke
rumah kami. Sekitar 3 kilo dari sini. Di sana ada beberapa temen kami,
yang tentu juga pengen berkenalan sama Non. Kami pikir mereka pasti suka
sama Non, suka sekali malah!"

Keke kembali gemetar dan pucat,
mereka akan memperkosanya lagi, dan sekarang bukan hanya dua orang tapi
banyak orang. Keke langsung jatuh berlutut, "Jangan, saya mohon Tuan,
jangan bawa saya Tuan! Jangan, ampun Tuan!" Keke berkata sambil
menangis.

"Hush, hush, hush, inget kata saya. Non nurut apa yang
kami bilang." kata Botak sambil menarik tangan Keke untuk berdiri lagi.
Keke tidak berkata-kata lagi, ia hanya masih terus menangis. Sementara
itu Hitam mengikat tali yang ada di tangannya dengan sebuah tali yang
lain dan ujung tali tersebut diikatnya ke bemper belakang mobil box
mereka. Pertama Keke kebingungan melihat itu, tapi ia tersadar, "Jangan,
jangan, saya tidak sanggup." Botak dan Hitam terus masuk ke dalam kabin
box dan Botak berkata , "Cuma 3 kilo Non. Non pasti bisa." San sambil
tertawa ia menyalakan mesin. Keke berdiri dengan limbung karena
kesakitan akibat pecutan Botak, berusaha menahan dirinya agar tidak
ambruk jatuh. Box tadi maju dan tangan Keke tertarik ke depan, dan
tubuhnya tertarik dan terbanting ke depan. Box itu berhenti, dengan
putus asa Keke kembali berusaha berdiri. Box tadi mulai maju dan di
belakang Keke mulai berlari kecil menyeberangi padang rumput yang
berbatu dan luas, sambil menyeringai kesakitan, dengan tubuh telanjang,
putus asa.

Masih ada 3 kilometer lagi sebelum mereka sampai.

TAMAT




Judul: Cerita Dewasa Ngentot Selebritis Indonesia cut keke
Rating: 100% based on 99998 ratings. 5 user reviews.
Ditulis Oleh lorong maya
DOWNLOAD BOKEP INDONESIA
DOWNLOAD BOKEP INDONESIA

Artikel Terkait Lainnya :



bokepzz

jual vimax